Tidak Ada Komentar

[Contoh Judul Posting]

[Contoh Gambar Posting]
Ukuran 380px 250px
Tidak Ada Komentar

Malam Mingguan Membina Kepribadian

LirboyoNet, Kediri – Kata siapa malam Minggu hanya dinikmati anak muda ‘luar’?

Stigma malam Minggu memang cenderung negatif, terutama bagi mereka yang jalan-jalan dengan lawan jenis. Dengan mengendarai motor, mereka mencari tempat tertentu untuk sekedar bercengkerama.

Sesuatu yang lebih positif telah digiatkan oleh para anak muda ‘dalam’, yakni mereka yang berdiam di dalam Ponpes Lirboyo. Sabtu malam Ahad (06/02) kemarin, beberapa diantara mereka berkumpul di Laboratorium Bahasa Ponpes Lirboyo. Gedung ini berada di dalam komplek Aula Al Muktamar. “Malam Mingguan” mereka nikmati dengan mengikuti Kursus Bina Kepribadian, yang dikoordinir oleh Seksi Pramuka P2L. Mereka datang dengan berbagai latar belakang. Mulai mereka yang masih duduk di jenjang Ibtida’iyyah hingga Aliyah.

Di dalam ruangan itu, mereka telah ditunggu oleh sang pemateri, Bapak Saiful Asyhad, SH. Sesuai jadwal, kursus dimulai pada pukul 23.00 waktu Istiwa’. Dengan sigap, puluhan peserta segera memakai earphone yang tergantung di meja. “Dalam mengatur penampilan, kalian harus jeli memilih warna busana dan aksesoris yang akan kalian pakai,” terang beliau mengawali kursus. Para pria maksimal dapat menggunakan tiga kombinasi warna dalam pakaian mereka. Sementara bagi wanita dua warna lebih banyak.

Tidak hanya pakaian. Cara melangkah dan ekspresi wajah juga tidak boleh lupa untuk dicermati. “Ketika melangkah, jangan menghentak. Turunkan tumit dahulu, kemudian telapak kaki. Selain lebih halus, ini juga berpengaruh ketika kalian sudah berumur tua,” lanjut Pak Saiful. Jika cara melangkah kurang diperhatikan, efek yang akan dirasakan saat tua adalah pinggang yang mudah sakit, jalan menjadi pincang, dan lainnya.

Pengadaan kursus Bina Kepribadian ini berangkat dari kebutuhan dan kewajiban untuk berdakwah bagi para santri. Di dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi dunia dakwa
h, banyak hal di luar materi kitab kuning yang harus dipelajari. Bagaimana agar mudah diterima masyarakat, mengajak kebaikan (amr ma’ruf) dengan tanpa menggurui, adalah beberapa tema yang menjadi pekerjaan rumah bagi para santri.

Dengan kursus inilah, paling tidak, santri dapat menemukan cara-cara berkepribadian yang benar, baik dan indah untuk mereka terapkan ketika sudah bermasyarakat kelak. Sehingga, akhlakul karimah dan materi-materi agama yang mereka bawa akan mampu diserap dengan baik oleh masyarakat sekitar, lebih-lebih oleh seluruh elemen masyarakat Nusantara.][

SUMBER
Tidak Ada Komentar

Kunjungan Mufti Damaskus

LirboyoNet, Kediri - Sabtu siang kemarin (23/01/2016), Ponpes Lirboyo kembali kedatangan ulama besar. Kali ini Syaikh ‘Adnan Afyuni, seorang mufti dari Damaskus, Suriah. Kunjungan beliau beserta rombongan ke Indonesia adalah dalam rangka menghadiri acara Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang puncaknya digelar Ahad, 17 Januari lalu di Pekalongan, sekaligus menghadiri Konferensi Internasional Ulama Thariqah di Hotel Santika Kota Pekalongan.

Dalam rihlah safari tersebut, Syaikh ‘Adnan Afyuni menyempatkan untuk mengunjungi beberapa pondok pesantren di tanah jawa, seperti di Salatiga, Langitan, Gresik, dan lain-lain.

Dalam kunjungan ini, beliau menyempatkan diri menyapa santri-santri di serambi masjid lawan songo, Lirboyo. Disaksikan ribuan santri beliau menyampaikan beberapa petuah. Seperti memberikan motivasi kepada santri-santri, bahwa dimasa mendatang, orang yang akan membawa citra agama Islam, baik atau buruknya adalah generasi hari ini. Juga tentang pentingnya meluruskan kembali pemahaman masyarakat tentang Islam, bahwa Islam bukanlah agama yang identik dengan terorisme dan radikalisme, namun Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamîn, kedatanagnnya sebagai wujud rahmat kepada semesta alam. “Orang yang membuat citra buruk pada Islam ada dua. Pertama, orang yang ‘pecinta’ tapi tidak tahu apa-apa, meski dia mengaku cinta Islam, tapi malah menjauhkan dari agama Islam. Mereka-mereka yang tidak tahu tentang Islam akan menjadikan Islam makin tidak sesuai dengan aslinya. Dan kedua orang yang mengecohkan tentang Islam, (membuat persepsi bahwa) Islam adalah agama terorisme dan radikalisme,” kata beliau.

Beliau juga menyampaikan bahwa tidak cukup seorang santri hanya memiliki kedalaman dan kematangan ilmu saja. Santri juga harus punya kemampuan yang baik dalam menjalin sosialisasi dengan masyarakat agar menunjang dalam penyebaran ilmunya. Sebab, banyak sekali orang yang kapasitas ilmunya mumpuni, namun wawasannya tidak berguna karena tidak ada masyarakat yang tertarik dengannya. “Ilmu bukan hanya kumpulan informasi saja. Orang yang menguasai ilmu tanpa hikmah, justru akan membuat pergi orang-orang yang dia ajak,” tandas beliau.

Dalam kunjungan siang tersebut Syaikh Mahmud Syahadah dari Suriah yang turut bersama rombongan juga berkenan memberikan sedikit wejangan. “Di belahan dunia banyak orang yang berilmu, tapi tidak mampu memanfaatkannya. Dan menurut saya karena dua hal, dia berani kepada orang tua, atau berani kepada syaikhnya,” kata beliau.

Kunjungan tersebut ditutup dengan pembacaan doa dan mengirim hadiah surat Al-Fatihah kepada segenap masyayikh yang telah wafat. Lalu dilanjutkan salat Dhuhur berjama’ah bersama segenap santri dan tamu.][

SUMBER
Tidak Ada Komentar

Berdakwah, Tidak Ada Alasan Tidak Siap

LirboyoNet, Kediri – Sembari menunggu datangnya peserta yang lain, Qomarul Faizin, Ketua Safari Ramadlan Daerah Blitar, menandatangani lembar absensi kehadiran. Ada 38 baris nama daerah yang tertera di sana, yang berarti, untuk tahun ini Safari Ramadlan akan dilaksanakan serentak di 38 daerah di seluruh Indonesia.

Siang itu (02/02), Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Pusat memang sedang mempunyai hajat. Salah satu ruangan di Rusunawa dipersiapkan guna acara Pelatihan Delegasi Safari Ramadlan Daerah. Para pesertanya adalah seluruh dewan harian panitia Safari Ramadlan Daerah.

Agus Zulfa Ladai Robbi, Ketua Dua Panitia mengatakan, acara ini difokuskan untuk memberikan pengarahan kepada delegasi bagaimana proses dakwah yang baik. “Regenerasi adalah proses yang penting. Untuk itu, kalian yang sudah senior, ajaklah adik-adik kelas kalian untuk berkecimpung di dalam kegiatan Safari ini. Agar dakwah tidak berhenti di tengah jalan,” terang beliau saat memberikan sambutan.

Setelahnya, sang tutor, Bapak Widodo Hamid S. Kom. segera memulai pengarahannya dengan ringan. Beliau terlebih dahulu menceritakan riwayat dakwahnya di beberapa daerah, “waktu itu saya masih nyantri di Lirboyo. Ada satu tokoh masyarakat yang ternyata memelihara tujuh ekor anjing. Apa langsung saya katakan ‘harom’?! ‘neroko’?!”. Masih dalam cerita beliau, perlahan tokoh itu dirayu. Anjing itu ternyata untuk mengusir babi yang mendekati kebun. “‘Apa masih ada babinya?’ kata saya. ‘sudah nggak ada’. ‘anjingnya nganggur sekarang?’. ‘iya’.’berarti sampean memelihara barang nganggur? Kalau misalnya anjing itu dijual, terus diganti kambing gimana? Kan lebih berguna?”.

“Ngunu kang. Sampean rayu, terus dikasih solusi. Jangan dibeli anjingnya. Kasih saran saja. Kalau main beli saja, wah, tekor sampean,” canda beliau yang juga alumnus Ponpes Lirboyo tahun 1998 itu.

Acara yang berlangsung hingga pukul 16.30 itu memang berlangsung renyah. Kisah-kisahnya selain lucu dan segar, juga menginspirasi para peserta. “Yang penting adalah, santri jangan pernah bilang tidak bisa. Tidak siap. Buang kosakata itu dari kamus kalian. Kiai saya pernah dawuh, kamu santri lirboyo, tidak ada gunanya jika tidak siap setiap saat. Disuruh ceramah, siap. Tahlil, ya. Khutbah nikah, sanggup. Cuci piring, jangan.” Tawa peserta kembali pecah. “Loh, kalian harus bisa menempatkan diri. Kalau sampean terima saja jadi cuci piring, kemudian kok bersih, sampai kapanpun sampean terus yang cuci piring. Lah yang memperjuangkan dakwahnya siapa?” lanjut beliau.

Di akhir acara, beliau membuka fakta bahwa salah satu ormas di Kediri, sudah menyiapkan 1.200 dai untuk disebar di bulan Ramadlan. “Jangan kalah dengan mereka. Wis toh, kalau masalah rizki, sampean percaya apa yang dipesankan Kiai Marzuqi. ‘Masalah keadaan tiap-tiap santri di rumahnya kelak terserah gusti Allah’. Yang penting ngajar. Dakwah. Murobbi ruuhina Mbah Manab sudah mewanti-wanti, ‘santri nek mulih ojo lali ngedep dampar’. Ingat-ingat pesan beliau itu.”][

SUMBER
Tidak Ada Komentar

Aku Tak Tahu

Kediri, LirboyoNet
Jarang terdengar ketika kita mencoba bertanya suatu hal yang bersifat asin dan kita tak tahu jawabannya kepada mereka “yang lebih tahu”, mereka akan menjawab dengan “aku tak tahu”. Seperti menjadi aib yang teramat besar bagi sebagian orang untuk mengakui dirinya, kalau memang dia “tak tahu”. Terlalu sempitnya orang mengartikan ketidak tahuan sebagai sebuah ujung dari mata rantai kebodohan. Padahal siapa tahu saja jawaban akhir “tidak tahu” adalah ritus terakhir dari berbagai pengalaman yang matang. Dengan berbagai pertimbangan, memang harus dijawab seperti itu, -atau lebih baik diam saja sekalian “agar setidak-tidaknya” memanfaatkan waktu untuk berfikir.

Sejatinya adalah hal yang wajar, bahkan sepandai-pandainya orangpun akan memiliki sisi “ketidak tahuan”. Selain karena tidak mungkin cukup usia seseorang untuk membuka semua khazanah yang ada, masih banyak yang harus dikaji ketika mulai menimba ilmu menjadi terasa semakin mengasyikkan.

Orang dengan gelar sarjana, adakah yang masih sudi untuk mengakui kehebatan anak sekolah dasar? Tentu menjadi pertanyaan yang naif jika hanya soal-soal sederhana yang diajukan padanya. Tapi faktanya, adalah sebuah dilema ketika pertanyaan mendadak menjadi sulit. Yang biasanya menjawab, “aku tahu” terasa kelu lidahnya ketika belajar mengucapkan, “aku sungguh-sungguh tidak tahu”.

Orang kadang terlalu sederhana menilai lautan, jika lautan itu umpamanya samudera pengetahuan, dengan mudahnya dia katakan pada dirinya sendiri sembari membusungkan dada, “Ternyata lautan memiliki ujung di bawah matahari yang sedang terbit itu”.

Adalah analogi sederhana ketika seorang pemula yang belum tahu apa-apa baru memulai belajarnya. Dia pikir, ini akan ada akhirnya, “Ditempuh dalam satu tahun juga aku sudah jadi orang yang sangat hebat,” pikirnya.

Dan ketika kapalnya mulai berlayar, mendadak dia dilanda kecemasan lantaran kapalnya tak kunjung menemukan pelabuhan. Dicari ke arah manapun tak ada tempat bersandar, seolah tersesat di suatu medan asing yang tak memiliki peraduan. Dia menemukan sebuah kesimpulan, “Lautan ini lebih luas dari yang pernah aku bayangkan”. Dia agak mulai merasa rendah diri sekarang, “bahkan sepuluh tahunpun sepertinya aku belum setengah jalan”.

Adalah analogi sederhana ketika sedikit-sedikit dia akhirnya mau “membaca sesuatu”. Bukan saja ini tak akan ada habisnya,  tapi justru semakin “dibaca” semakin bikin penasaran.

Ketika kapalnya mulai akrab dengan samudera, yang dia lakukan adalah belajar menyelam. Di atas permukaan saja dia hanya menemukan nuansa yang sangat sederhana. Hanya ada hamparan lautan biru dimana-mana. Di atas sana juga hanya ada langit dan bintang yang setia dengan karakternya. Pagi matahari terbit di timur, dan hilang di barat. Digantikan rembulan pada malamnya. Begitu setiap harinya. “Adakah hal menarik dibawah sana?” Alangkah terkejutnya ketika dia mendapati teronggok lapisan terumbu karang maha indah, ikan-ikan yang tak bosan berganti wajah. Warna yang bukan hanya biru yang ia berhasil temukan, namun juga mulai nampak hijau dan merah. “Didalam lautan ini adalah keindahan ynag sesungguhnya”.

Adalah analogi sederhana ketika orang mulai mengerti ada apa dibalik “perjalanan ilmiah” yang sedang ia lalui. Bukannya kurang percaya diri atau apapun istilahnya, selamanya pun dia tidak akan selalu tahu ada apa jauh di sana. “Kepuasan itu muncul dari hati ketika aku sudah berhasil melalui semua pelan-pelan,” katanya sambil agak menundukkan kepala.

Ketika dia pulang ke daratan, dia sudah memiliki cara lain untuk memandang lautan di sana. Sambil takjub dan tahu diri bahwa penglihatan kecilnya tak akan sebelah mata lagi memandang apa yang di depannya adalah hal yang segera berkesudahan.

Sederhananya, ketika kita enggan untuk mengatakan “aku tak tahu”, berarti kita baru memandang apa yang “kita tahu” ibarat sedang berdiri di bibir pantai. Merasa apa yang dia ketahui sekarang adalah tentang segala hal. Padahal, matanya baru berhasil menangkap “lautan” hanya sampai garis cakrawala –semua orang tahu kalau laut tidaklah sesempit itu.

Mari untuk sekedar belajar jujur pada diri sendiri. Manusia lengkap dengan keterbatasan yang dia miliki. Tidak mungkin untuk “tahu segala hal”, maka sedikit-sedikit coba kita katakan “beri aku waktu.” Untuk berfikir, atau lebih bagus lagi, “membaca.” Biarkan ia mengerti “lautan” dengan lebih jauh lagi. Semakin ia memahami laut, semakin ia tahu bahwa ia tak lebih dari setitik ombak diantara jutaan ombak lainnya.

وقال محمد بن رمح عددت لمالك مائة مرة قال لا أدري في مجلس واحد

“Aku pernah menghitung imam Malik bin Anas berkata, ‘aku tak tahu,’ sampai seratus kali dalam satu majlis.”

Lalu bagaimana dengan kita? [SLr]

SUMBER
Tidak Ada Komentar

Santri Annuqayah Borong Juara Lomba di UM Surabaya

Sumenep, NU Online
Bendera Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep kembali berkibar di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Para santri Annuqayah memborong juara dalam lomba pekan intelektual kebangkitan pelajar Indonesia.

Perlombaan digelar oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UM Surabaya pada Sabtu-Ahad (6-7/2). Terdapat 4 piagam yang berhasil diraih oleh santri Annuqayah.

Pertama, juara 1 pidato bahasa Arab yang diraih Moh Rozy Zamroni. Ia adalah delegasi MA 1 Annuqayah.

Delegasi MA Tahfidz Annuqayah Moh Danial Shafran juga tampil mengesankan. Ia berhasil menyapu bersih pidato Bahasa Inggris. Shafran merengkuh status pemenang, sama seperti Moh Rozy Zamroni, juara 1.

Selanjutnya Wahyu Afifurrahman juara 2 pidato Bahasa Arab, dan Moh Iqbal Ghulam Ahmad Afandi sebagai juara 2 pidato bahasa Inggris. Keduanya merupakan delegasi MA Tahfidz Annuqayah.

"Alhamdulillah, kami berhasil memborong lomba di UM Surabaya. Semua ini diraih berkat dukungan kiai, para guru, dan semangat kompetitif dalam diri para juara. Semoga prestasi santri Pesantren Annuqayah terus melejit dan memberi kontribusi positif bagi bangsa ini," ujar pembina lomba Annuqayah Ustadz Romaiki Al-Hafidz.
(Hairul Anam/Alhafiz K)

SUMBER
Tidak Ada Komentar

Isi Liburan Kampus, Santri Darul Hikam Ngaji Kitab Tasawuf

Jember, NU Online
Di masa liburan kampus IAIN Jember Januari-Pebruari 2016 ini, Pesantren Darul Hikam Mangli Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember tidak serta merta meliburkan para santri. Pesantren ini menyediakan pengajian kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghazali.

Pelajaran ini berbeda dengan yang biasa diajarkan di pesantren mahasiswa ini. Biasanya, ilmu yang diajarkan di pondok ini adalah kitab-kitab nahwu, sharaf, fiqh, ushul fiqh, dan qawaidul fiqhiyah.

Program khataman kitab Bidayatul Hidayah ini merupakan tradisi baru di Pesantren Darul Hikam. Untuk mengisi kekosongan kegiatan selama liburan semester, pihak pesantren sengaja mengajak mahasiswa untuk tidak pulang, tapi mengisinya dengan kegiatan positif seperti pengajian kitab ini.

Pengasuh Pesantren Darul Hikam DR Kiai MN Harisudin mengatakan bahwa pilihan mengaji kitab ini adalah agar mahasantri tidak terlalu melihat aspek legal-formal saja dan juga tidak hitam putih halal dan haram. Pelajaran ini dipilih agar mahasantri memiliki jiwa kemanusiaan yang digali dari kitab tasawuf.

“Saya kira, pas jika yang dikaji kitab tasawuf karya Imam Ghazali. Ini kitab dasar tasawuf yang cocok untuk mahasantri Pesantren Darul Hikam yang 100 persen mahasiswa IAIN Jember. Biar mereka lebih punya ‘rasa tasawuf’ dalam kehidupan sehari-hari,” tukas Kiai Haris yang kini diamanahkan sebagai Katib Syuriyah PCNU Jember.

Apalagi di tengah-tengah persaingan global dan budaya modern yang nyaris meluluhlantakkan bangunan agama, nilai spritualitas yang dibawa kitab tasawuf sangat penting dihadirkan dalam kehidupan ini.

“Kritik Imam Ghazali dalam kitab ini, saya kira masih relevan. Misalnya orientasi mencari ilmu untuk pangkat, jabatan, dan kekayaan. Ini kan sesuai dengan kondisi sekarang yang hanya berorientasi ijazah?” kata Doktor Ushul Fiqh keluaran IAIN Sunan Ampel, Surabaya.

Kiai Harisudin berharap mahasantri Pesantren Darul Hikam dapat mengamalkan ilmu yang diperoleh dalam kitab Bidayatul Hidayah ini. Ini sesuai dengan moto Pesantren Darul Hikam, “Ilmu yang diamalkan. Dan amal yang berdasarkan Ilmu”.
(Muhyidin/Alhafiz K)

SUMBER
Tidak Ada Komentar

Pondok Tremas Terima Kunjungan Mahasiswa Ilmu Kepolisian

Pacitan, NU Online
Sebanyak 10 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Jakarta melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Tremas Pacitan, Jawa Timur, Rabu (2/2/2016) sore. Kunjungan dilakukan dalam rangka sosialisasi tentang bahaya paham radikal kepada para santri.

Rombongan diterima dengan hangat oleh pengurus Pondok Tremas H Multazam Surur dan para santri di Aula Rusunawa Pondok Tremas. Turut serta dalam kunjungan tersebut, Kaur Bin Ops Binmas Polres Pacitan Ipda Agus Irianto dan beberapa personel Polsek Kecamatan Arjosari, Pacitan.

Ketua rombongan, AKP Ruliyan Syauri mengaku senang dapat bersilaturahmi dengan para kiai Tremas dan para santrinya. Ia bersyukur dapat mengunjungi pesantren yang telah melahirkan para alumni yang banyak berjasa bagi pembangunan Indonesia ini.

Dalam paparanya tentang bahaya paham radikal dan aliran sesat, AKP Ruliyan menjelaskan, paham radikal yang mengatasnamakan agama saat ini mulai menyasar masyarakat yang berpengetahuan agama rendah, baik yang berada di perkotaan maupun di pedesaan.

“Utamanya orang yang berada di bawah garis kemiskinan, ini akan mudah dipengaruhi untuk masuk dalam gerakanya,” katanya di hadapan para santri.

Oleh karena itu, lanjutnya, masyarakat utamanya para santri agar dapat membentengi diri dari pengaruh paham radikal dan aliran sesat yang saat ini mulai marak, dan disinyalir telah menyusup ke pesantren-pesantren.

“Jangan sampai pesantren menjadi sarang pembibitan paham radikal dan teroris,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, AKP Ruliyan juga menyampaikan seputar isu-isu kekinian yang sedang menjadi perhatian pihak kepolisian. Di antaranya peredaran narkoba dan penjualan organ manusia.

Para santri diharap untuk selalu menjaga kondusivitas lingkungan pesantren. “Mari kita bersama-sama menjaga lingkungan kita agar tetap aman, sehingga proses belajar di pesantren dapat berjalan baik,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengurus Pondok Tremas H Multazam Surur berharap, para santri dapat menyerap apa yang disampaikan oleh Kepolisin Republik Indonesia melalui mahasiswa STIK ini. H Multazam meminta polisi dan pesantren dapat bersinergi dalam menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat.

Kunjungan mahasiswa yang didampingi oleh dosen pembimbing, Kombespol Bambang Priambodo dan Yuni, salah satu dosen di STIK, adalah dalam rangka melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di wilayah Kabupaten Pacitan. Mereka adalah satu kelompok mahasiswa STIK ke-67.
(ZaenalFaizin/Mahbib)

SUMBER
Tidak Ada Komentar

Pelajar Al-Abror Peringati Harlah NU dengan Pawai Obor dan Hadrah

Pamekasan, NU Online
Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU Al Abror, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan semarak memeringati harlah NU ke-90, mulai Ahad malam (31/1) sampai Senin (1/2). Mereka melakukan pawai obor diiringi tepukan hadrah.

Ketua PK IPPNU Al Abror Riris Sakinah menegaskan, pawai obor yang mengelilingi desa dimaksudkan sebawai wujud eksistensi NU yang terus menerangi gulita kehidupan.

"Di tengah merebaknya upaya menghitamkan ajaran Islam dan nilai kebangsaan negeri ini, NU secara istiqomah menebar nilai-nilai kebajikan. Inilah yang menginspirasi kami menggelar pawai obor dalam harlah NU kali ini," terang Riris Sakinah.

Sementara kehadiran musik tradisional hadrah, kata Ketua PK IPNU Al-Abror Thariq Al-Muaddam, ialah sebagai bentuk komitmen PK IPNU-IPPNU Al Abror untuk mempertahankan tradisi bersolawat tanpa menghilangkan nilai kesenian.

Pengasuh Pesantren Al-Abror KH Syatibi Sayuthi mengetengahkan kebanggaannya pada para pelajar NU Al Abror. Ia mendoakan semoga spirit melestarikan paham Ahlussunnah wal-Jama'ah terus ditekuni murid dan santrinya.
(Hairul Anam/Abdullah Alawi)

SUMBER
Tidak Ada Komentar

Fiqh Sosial, Gagasan Khas Pesantren

Pati, NU Online
Fiqh sosial perlu dideklrasikan sebagai gagasan khas pesantren. Itu dimaksudkan untuk perkembangan fiqh dan arah kemaslahatan umat Islam Indonesia. Karena saat ini berkembang fiqh berhaluan radikal di Indonesia.

Demikian disampaikan Rektor Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) KH Abdul Ghaffar Rozin, dalam acara Seminar Nasional yang bertajuk “Fiqh Sosial: Masa Depan Fiqh Indonesia” di Aula kampus setempat, Kamis, (28/1) lalu.

“Fiqh sosial lahir dari keresahan Kiai Sahal terhadap kajian fiqh yang mengalami stagnasi. Dari itu, Kiai Sahal bertekad untuk melakukan terobosan sebagai upaya memecahkan berbagai persoalan masyarakat menggunakan fiqh,” ujarnya.

Sosok yang kerap disapa Gus Rozin ini melanjutkan, menemukan formula ijtihad oleh Kiai Sahal, merupakan poin penting dalam mendekatkan fiqh dengan isu-isu kekinian. Tawaran Kiai Sahal melalui lima prinsip pokok dalam Fiqh Sosial merupakan terobosan yang penting dalam pengembangan masa depan fiqh Indonesia. Selain itu, fiqh Indonesia ini juga untuk menghalau fiqh-fiqh radikal yang mulai bermunculan.

“Kaitannya dengan mashlahah, Kiai Sahal memilih ijtihad jama’i. Kedua hal ini seharusnya diteladani oleh masyarakat pesantren dari Kiai Sahal agar lebih dinamis dalam merespon isu-isu kekinian,” tegasnya.

Dalam Seminar itu turut hadir KH Abdul Ghofur Maimun dan Abdul Moqsith Ghazali sebagai narasumber. Di waktu yang sama ada peluncuran buku ketiga yang ditulis oleh para peneliti Pusat Studi Pesantren & Fiqh Sosial IPMAFA.
(suhendra/abdullah alawi)

SUMBER